#rocking-rolling { width:auto; height:52px; text-align:left; font-family:"Trebuchet MS",sans-serif; font-size:16px; font-style:normal; font-weight:bold; text-transform:uppercase; } #rocking-rolling h2, #rocking-rolling p, #rocking-rolling form { /* netralisasi tampilan elemen heading, paragraf dan formulir */ margin:0 0 0 0; pading:0 0 0 0; border:none; background:transparent; } #rocking-rolling .item { position:relative; background-color:#f0f0f0; float:right; width:52px; margin:0px 5px; height:52px; border:2px solid #ddd; -webkit-border-radius:30px; -moz-border-radius:30px; -webkit-border-radius:30px; -webkit-box-shadow:1px 1px 3px #555; -moz-box-shadow:1px 1px 3px #555; box-shadow:1px 1px 3px #555; cursor:pointer; overflow:hidden; } #rocking-rolling .link { left:2px; top:2px; position:absolute; width:48px; height:48px; } #rocking-rolling .icon_home {background:transparent url(http://3.bp.blogspot.com/-fuX8vT6cIzs/TlXFJXROx2I/AAAAAAAAAxE/D1kiRmSFBy4/s1600/home.png) no-repeat top left;} #rocking-rolling .icon_mail {background:transparent url(http://2.bp.blogspot.com/-FaTjV0LsMXQ/TlXFJ_5vpxI/AAAAAAAAAxc/JRPFgDCZ6lg/s1600/mail.png) no-repeat top left;} #rocking-rolling .icon_help {background:transparent url(http://4.bp.blogspot.com/-l7M2zGOJAQo/TlXFJ0YZR6I/AAAAAAAAAxM/32acLuLn_r8/s320/help.png) no-repeat top left;} #rocking-rolling .icon_find {background:transparent url(http://4.bp.blogspot.com/-ZIEGzN0LZCg/TlXFJ8WVzEI/AAAAAAAAAxU/2-oDKLYjsKw/s1600/find.png) no-repeat top left;} #rocking-rolling .icon_photos {background:transparent url(http://4.bp.blogspot.com/-IwFEevO-np8/TlXFKFu47FI/AAAAAAAAAxk/aejG1YmQumc/s1600/photos.png) no-repeat top left;} #rocking-rolling .item_content { position:absolute; height:52px; width:220px; overflow:hidden; left:56px; top:7px; background:transparent; display:none; } #rocking-rolling .item_content h2 { color:#aaa; text-shadow:1px 1px 1px #fff; background-color:transparent; font-size:14px; } #rocking-rolling .item_content a { background-color:transparent; float:left; margin-right:7px; margin-top:3px; color:#bbb; text-shadow:1px 1px 1px #fff; text-decoration:none; font-size:12px; } #rocking-rolling .item_content a:hover {color:#0b965b;} #rocking-rolling .item_content p { background-color:transparent; text-transform:none; font-weight:normal !important; display:none; } #rocking-rolling .item_content p input { border:1px solid #ccc; padding:1px; width:155px; float:left; margin-right:5px; -webkit-box-shadow:none; -moz-box-shadow:none; box-shadow:none; }

Minggu, 01 November 2015

Awas, Penebar Kebencian di Media Sosial Bisa Diancam Pidana

Peraturan Anti Hujat (Hate Speech) Sudah Keluar, Para Netizen Harap Hati-hati ya.

👇

Bermacam Hal yang Perlu Diketahui soal Edaran Kapolri tentang "Hate Speech"...

JAKARTA, KOMPAS.com – Setelah dikaji cukup lama, Surat Edaran (SE) Kapolri soal penanganan ujaran kebencian atau hate speech akhirnya dikeluarkan.

SE dengan Nomor SE/06/X/2015 tersebut diteken Jenderal Badrodin Haiti pada 8 Oktober 2015 lalu dan telah dikirim ke Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) seluruh Indonesia.

Dalam salinan SE yang diterima Kompas.com dari Divisi Pembinaan dan Hukum (Divbinkum) Polri, Kamis (29/10/2015), disebutkan bahwa persoalan ujaran kebencian semakin mendapatkan perhatian masyarakat baik nasional atau internasional seiring meningkatnya kepedulian terhadap perlindungan hak asasi manusia (HAM).

Bentuk, Aspek dan Media

Pada Nomor 2 huruf (f) SE itu, disebutkan bahwa “ujaran kebencian dapat berupa tindak pidana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan ketentuan pidana lainnya di luar KUHP, yang berbentuk antara lain:

1. Penghinaan,
2. Pencemaran nama baik,
3. Penistaan,
4. Perbuatan tidak menyenangkan,
5. Memprovokasi,
6. Menghasut,
7. Menyebarkan berita bohong dan semua tindakan di atas memiliki tujuan atau bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan atau konflik sosial”.

Pada huruf (g) selanjutnya disebutkan bahwa ujaran kebencian sebagaimana dimaksud di atas bertujuan untuk menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan atau kelompok masyarakat dalam berbagai komunitas yang dibedakan dari aspek:

1. Suku,
2. Agama,
3. Aliran keagamaan,
4. Keyakinan atau kepercayaan,
5. Ras,
6. Antargolongan,
7. Warna kulit,
8. Etnis,
9. Gender,
10. Kaum difabel,
11. Orientasi seksual.

Pada huruf (h) selanjutnya disebutkan bahwa “ujaran kebencian sebagaimana dimaksud di atas dapat dilakukan melalui berbagai media, antara lain:

1. Dalam orasi kegiatan kampanye,
2. Spanduk atau banner,
3. Jejaring media sosial,
4. Penyampaian pendapat di muka umum (demonstrasi),
5. Ceramah keagamaan,
6. Media massa cetak atau elektronik,
7. Pamflet.

Pada huruf (i), disebutkan bahwa “dengan memperhatikan pengertian ujaran kebencian di atas, perbuatan ujaran kebencian apabila tidak ditangani dengan efektif, efisien, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, akan berpotensi memunculkan konflik sosial yang meluas, dan berpotensi menimbulkan tindak diskriminasi, kekerasan, dan atau penghilangan nyawa”.

Prosedur penanganan

Adapun, pada nomor 3 SE itu, diatur pula prosedur polisi dalam menangani perkara yang didasari pada hate speech agar tidak menimbulkan diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa dan atau konflik sosial yang meluas.

Pertama, setiap personel Polri diharapkan mempunyai pemahaman dan pengetahuan mengenai bentuk-bentuk kebencian.

Kedua, personel Polri diharapkan lebih responsif atau peka terhadap gejala-gejala di masyarakat yang berpotensi menimbulkan tindak pidana.

Ketiga, setiap personel Polri melakukan kegiatan analisis atau kajian terhadap situasi dan kondisi di lingkungannya. Terutama yang berkaitan dengan perbuatan ujaran kebencian.

Keempat, setiap personel Polri melaporkan ke pimpinan masing-masing terhadap situasi dan kondisi di lingkungannya, terutama yang berkaitan dengan perbuatan ujaran kebencian.

Apabila ditemukan perbuatan yang berpotensi mengarah ke tindak pidana ujaran kebencian, maka setiap anggota Polri wajib melakukan tindakan, antara lain:

- Memonitor dan mendeteksi sedini mungkin timbulnya benih pertikaian di masyarakat,
- Melakukan pendekatan pada pihak yang diduga melakukan ujaran kebencian,
- Mempertemukan pihak yang diduga melakukan ujaran kebencian dengan korban ujaran kebencian,
- Mencari solusi perdamaian antara pihak-pihak yang bertikai dan memberikan pemahaman mengenai dampak yang akan timbul dari ujaran kebencian di masyarakat;

Jika tindakan preventif sudah dilakukan namun tidak menyelesaikan masalah, maka penyelesaiannya dapat dilakukan melalui upaya penegakan hukum sesuai dengan:
- KUHP,
- UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,
- UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis,
- UU Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, dan
- Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2013 tentang Teknis Penanganan Konflik Sosial.

Sumber : [kompas]
.


Antisipasi Banjir Segera Tiba, Teknik Ini Mampu Menyerap 20 Juta Kubik Air Hujan Hanya dalam Waktu 1 Jam


Dengan bambu yang harganya murah, tehnik ini mampu menyerap 20 juta kubik air hujan hanya dalam waktu 1 jam 
Dari beberapa informasi prakiraan cuaca diprediksi akhir oktober 2015 ini, kawasan Indonesia kembali memasuki musim hujan. Tidak perlu dibayangkan lagi setiap hari akan penuh dengan berita banjir, terutama wilayah DKI dan pulau Jawa.
Permasalahan banjir bukan semata-mata tinggi - rendah nya permukaan air laut dari daratan. Bukan pula seberapa cepat selokan drainase mengalirkan air. Namun yang vital adalah daya serap tanah dan tanam-tumbuh di sekitar area publik itu sendiri. Termasuk juga jalan raya, halaman rumah, pekarangan, dan lain sebagainya.
Logika dasar dalam pengelolaan banjir seharusnya dapat menghitung seberapa besar volume air hujan per detik :
  1. Teralirkan kembali kelaut (drainase).
  2. Seberapa besar air dapat ditampung sementara dalam bendungan.
  3. Seberapa besar air dapat terserap kembali ke dalam tanah (pori bumi/ sumur serapan air).
Pada prinsipnya butiran air hujan itu jatuh lurus ke setiap pori bumi. Karena tidak adanya lubang untuk masuk ke dalam tanah maka butiran air hujan berkumpul menjadi genangan dan berubah menjadi bencana banjir.
Dari tiga logis ilmiah di atas, point ke-3 tampaknya belum mendapat perhatian yang serius. Padahal pada dasarnya struktur tanah di bumi ini dapat terjaga dengan baik apabila terdapat kandungan air dibawah tanah yang cukup dan akan kembali menguap menghasilkan udara yang segar di pagi hari, serta menjaga tanah agar tidak rapuh.
Analisa simple tindakan manakah yang lebih baik, apakah memindahkan air hujan ke laut dengan cepat, atau memindahkan air hujan ke dalam bumi dengan sebanyak-banyaknya. Tentu dua tindakan ini sama-sama baik. Namun secara alami aliran air ke laut mengikuti hukum air, tergantung tinggi rendah permukaan air dan faktor penghambatnya adalah drainase. Relatifitas kebaikan tindakan ini lebih kecil karena sudah terhitung jelas dataran Jakarta lebih rendah dari permukaan air laut.
Sedangkan mem-fokuskan tindakan memindahkan air hujan ke dalam perut bumi dengan sebanyak-banyaknya jauh lebih baik dan relatif manfaat yang lebih tinggi. Selain mempertahankan struktur tanah, penguapan air tanah pada cuaca panas dapat menyejukkan udara Kota Jakarta. Apabila fokus tindakan telah dipilih dengan tepat, maka seluruh kemampuan sumber datya perlu digerakkan dengan cara setinggi-tingginya. Melalui sosialisasi, himbauan, percontohan, penggalangan relawan dan upaya lainnya.
Jakarta sebagai pusat perhatian yang setiap tahunnya mengalami kebanjiran dikatakan suatu saat nanti akan tenggelam karena sudah berada di bawah permukaan laut. Menurut pandangan penulis, permukaan tanah menyusut (memadat) dan rapuh akibat semakin berkurangnya sungai bawah tanah. Sungai dan resapan air ini berkurang bukan karena debit hujan yang kurang, malahan sebaliknya, debit hujan sangat besar tetapi tidak bisa terserap ke dalam tanah karena tidak adanya celah pori yang bisa dilalui air. Pengelolaan banjir akibat hujan hanya terfokus pada drainase dan bendungan. Maka semakin rendah kesempatan tanah untuk menyerap air hujan.
Seharusnya diadakan studi di Jakarta, seberapa luas jalan raya, jalan lingkungan, halaman beton, dan luas perumahan yang seharusnya dapat berfungsi sebagai jalur/celah air hujan untuk terserap kembali oleh tanah.
Menyikapi permasalahan banjir di Jakarta ini, penulis mencoba mengemukakan solusi dengan cara membuat Lubang pori bumi di Jakarta. Untuk fasilitas umum seperti jalan raya, halaman perkantoran, dan sejenisnya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membuat pori bumi. Sedangkan untuk kawasan perumahan sepenuhnya harus dilaksanakan oleh masyarakat secara swadaya, digerakkan oleh tokoh-tokoh masyarakat, Ketua RT, RW dan ormas-ormas yang ada.
Lubang pori bumi yang murah dan efesien dapat dibuat dari bahan bambu, ditanamkan dengan jarak titik per- 3 meter dan ke dalam tanah sekitar 1,5 s/d 2 meter atau sampai menyentuh dasar tanah yang keras. Sedangkan untuk fasilitas umum seperti jalan raya dapat digunakan bahan baja stainless yang dapat bertahan lebih lama. Ilustrasi ditampilkan dalam gambar berikut.

Selain pori-pori bumi, Rumput menjalar dengan daunnya yg lebar, efektif mempunyai daya serap (hisap) yang kuat penahan air.
  1. Pipa Baja atau bambu kuning yang telah dibuat berbentuk splasher (spray) ditanam sampai menyentuh tanah dasar di bawah aspal sebanyak mungkin dengan jarak tertentu diletakkan di pinggir kiri-kanan jalan, di atasnya berbentuk lobang saringan agar tidak mudah tersumbat oleh material yg besar. Bahan bambu sebagai alternatif biaya lebih murah dan dapat digerakkan secara massal oleh masyarakat.
  2. Kiri-kanan sebelum saluran drainase, ditanam rumput berdaun lebar yang tumbuh menjalar rapat. efektif sebagai penghisap air.
Tehnik ini sedikit berbeda dengan biopori yang telah lama dilaksanakan banyak pihak. Biopori kurang menjamin ketersediaan lubang tersebut untuk menjamin tetap lancar masuknya air hujan, karena dianjurkan dalam praktek biopori untuk mengisi lubang dengan sampah organik. Biopori yang hanya dibuat dengan cara mengebor tanah tanpa pipa/bambu, rentan akan tertutup kembali oleh guguran dinding lubang tanah.
Dalam biopori yang berisi sampah, isi lubang tentu akan menghambat kecepatan air terserap oleh tanah dalam kondisi hujan deras. Maka dengan menyebutnya sebagai lubang pori bumi, seharusnya lubang harus selalu bersih dari material dan sampah. Bambu adalah solusi yang sangat ekonomis dan dapat menjamin ketersediaan lubang bagi air hujan, dilindungi dengan saringan atas yang bisa setiap waktu dibersihkan.
Dari data yang penulis ketahui bahwa tahun 2015 ini jumlah penduduk DKI Jakarta mencapai 20 juta jiwa lebih.
Dapat dihitung apabila 1 jiwa bertanggung jawab untuk membuat 1 lubang pori, maka dengan hitungan luas lubang pipa/bambu pori bumi yang dibuat seperti ilustrasi di atas sebagai berikut :
  • Luas lubang x 20 juta penduduk = 15cm2 x 20 juta lubang. Dengan kedalaman lubang dihitung minimal 1 meter (100cm) maka hasil volume pori bumi adalah seluas 3 juta meter kubik lubang pori bumi.
  • Apabila 1 lubang bisa menghisap air hujan 1 meter kubik dalam 1 jam maka terdapat 20 juta meter kubik air hujan yang terserap dalam 1 jam.
Bagi Pemerintah seharusnya dapat ditindaklanjuti dengan Perda atau Peraturan Kepala Daerah dalam bentuk Peraturan Serapan Air Hujan sehingga semua fungsi dan kebijakan terkait dapat mendorong aksi ini menjadi kewajiban semua pihak. Misal dalam menerbitkan IMB wajib dengan menyertakan pembuatan lubang pori, pembangunan jalan raya (aspal) juga mewajibkan penyertaan lubang pori, serta dalam hal-hal lainnya.
Perbandingan antara Biopori, Sumur Serapan dan Pori Bumi.
Menurut pandangan penulis, dasar orientasi biopori secara umum bertujuan untuk peningkatan kesuburan lahan, dan pembuatan pupuk organik (kompos) atau yang dikenal dengan istilah intensifikasi lahan pertanian. Biopori tidak secara khusus dimanfaatkan untuk penanganan banjir. Ketika biopori dianggap mempunyai relevansi dengan penyerapan air, maka berkembanglah penggunaan biopori sebagai rekayasa penanggulangan banjir. Namun tidak bisa melepas tujuan utamanya yaitu untuk peningkatan intensifikasi lahan dan pengolahan pupuk organik.
Berikutnya mengenai Sumur Serapan pada masa sekarang ini dirasa sudah kurang relevan untuk dilaksanakan, karena masalah banjir sudah sampai ke kondisi kronis akibat semakin meluasnya permukaan bumi yang tertutup sebagai dampak pembangunan perkotaan. Dulu sumur serapan dibuat dalam ukuran besar dan dalam sekali di satu lokasi, tujuannya untuk mengisi kembali sungai-sungai bawah tanah. Namun efek penyebaran air serapan tidak bisa menjangkau kawasan yang luas selain dari titik-titik sumur serapan itu sendiri.
Maka solusi Pori Bumi ini adalah bermaksud menyebar sumur serapan air hujan dalam bentuk yang lebih praktis, bisa ditempatkan di semua lokasi tanpa tergantung penentuan lahan khusus.
Walaupun ukuran lobangnya kecil, tapi jumlahnya bisa semaksimal mungkin dengan hasil penyerapan air hujan yang lebih cepat dan pemerataan serapan air tanah lebih luas. Kesimpulannya menurut penulis, bahwa Pori Bumi banyak memiliki kelebihan dibanding biopori dan sumur serapan versi lama.
Keunggulan lainnya yaitu Pori Bumi ini tidak mengganggu pemandangan, tidak mengganggu fasilitas umum, berfungsi sebagai celah-celah air tanah kembali menguap menjadi udara segar di siang hari, dan seluruh masyarakat dapat dengan mudah membuat Pori Bumi di lingkungannya masing-masing.
So far, ini hanya sekedar ide dari kami yang tidak paham dengan teknik-teknik canggih atau rumus-rumus ilmiah yang hebat. Kami hanya ikut nimbrung memberi solusi yang baik.
Terima kasih sudah ikut membaca :)

Sumber
http://www.kompasiana.com/hendribengkulu/antisipasi-banjir-segera-tiba-teknik-ini-mampu-menyerap-20-juta-kubik-air-hujan-hanya-dalam-waktu-1-jam_5633782fb69373c7109a1b7d

Selasa, 19 Agustus 2014

Kabar24.com, JAKARTA – Banjir yang terjadi di Jakarta menjadi titik baru untuk menyerang Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi.
Kritik pedas disampaikan Sosiolog dari Universitas Nasional yang meminta Jokowi bersikap ksatria dalam memimpin dan tidak berlindung di balik citra 'ndeso'-nya.
Sosiolog Universitas Nasional Nia Elvina MSi menilai bahwa penyebab banjir, khususnya di Jakarta, adalah karena tindakan manusia pemburu keuntungan.
"Karena persoalan banjir ini jika kita kaji sama seperti persoalan krisis ekonomi yang disebabkan oleh tindakan manusia, lebih tepatnya karena tindakan manusia yang tamak, dan akumulasi keuntungan yang terus-menerus," kata Nia Elvina, Senin (20/1/2014).
Memberikan ulasan mengenai persoalan mendasar banjir yang terjadi di Indonesia, khususnya daerah Ibu Kota Jakarta, Nia tidak sepakat dengan pandangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.
Dalam sebuah kesempatan, Jokowi menyatakan bahwa persoalan banjir Jakarta hanya sebatas persoalan ekologis dan lebih disebabkan oleh daerah penyangga, terutama Bogor.
"Saya kira itu kurang tepat," kata anggota Kelompok Peneliti Studi Perdesaan Universitas Indonesia itu.
Karena itu, ditegaskannya bahwa penyebab banjir bukan murni faktor alam, atau jika meminjam istilah ekonom, bukan bersifat eksogen.
Nia Elvina mengatakan bahwa persoalan banjir di Jakarta lebih banyak kepada persoalan manusianya, kebijakan yang sangat berpihak kepada kepentingan manusia yang tamak.
Ia merujuk data dari Dinas Perhubungan dan Pekerjaan Umum Jakarta yang menyebutkan bahwa izin perluasan jalan tol semakin bertambah, yang sebagian besar area jalan tol tersebut notabene adalah daerah resapan air.
Tidak jarang juga, kata dia, perluasan jalan tol juga membabat taman kota.
Kemudian pemberian izin pengembangan bisnis properti yang tidak mempertimbangkan daerah resapan air.
"Jadi saya kira persoalan banjir di Jakarta lebih banyak pada persoalan pengaturan tindakan manusia yang tamak ini," kata Sekretaris Program Sosiologi Unas itu.
Jadi selama kebijakan yang diambil oleh Gubernur DKI Jakarta masih cenderung mendukung berkembangnya manusia tamak dimaksud, kata dia, selama itu juga persoalan banjir tidak akan selesai.
"Saya kira juga Gubernur Jakarta harus punya sikap ksatria dalam memimpin, yakni harus menghilangkan tendensi negatif yang berkembang dalam masyarakat sekarang bahwa Gubernur hanya berlindung image 'ndeso'nya dan sentimentilnya, tetapi kebijakan yang Gubernur Jakarta ambil sangat borjuis," katanya.
Ia melihat belum ada kebijakan yang progresif untuk membela kepentingan masyarakat kelas bawah atau masyarakat Jakarta secara luas. (Antara)
http://www.kabar24.com/megapolitan/read/20140120/60/209064/sosiolog-minta-jokowi-ksatria-dan-hindari-citra-ndeso

KOMENTAR
Ini katanya pengamat tapi kok gak melihat ya?
KJS dan KJP bukannya berpihak ke masyarakat strata ekonomi lemah/lemah sekali dan masyarakat Jakarta secara luas, gw bingung apalagi yg perlu dilakukan Jokowi?

Trus relokasi pemukim liar di Waduk2 ke rusun, rusunawa dan ditambah perbaikan wilayah kumuh melalui program kampung deret itu bukan berpihak ke masyarakat strata ekonomi lemah dan masyarakat Jakarta secara luas, gw bingung apalagi yg perlu dilakukan Jokowi?

Apa Revitalisasi waduk2 di Jakarta itu bukan berpihak ke masyarakat Jakarta secara luas, gw bingung apalagi yg perlu dilakukan Jokowi?

Lalu penambahan dan peremajaan bus melalui program 1000 busway dan 3000 bus sedang itu bukan berpihak ke masyarakat Jakarta secara luas, gw bingung apalgi yg perlu dilakukan Jokowi?

Berdasarkan poin2 diatas, maka :
"I pronounce Nia Elvina, anggota Kelompok Peneliti Studi Perdesaan Universitas Indonesia it as Failed".

Bilal: Aku tidak Akan Mengumandangkan Azan Lagi

Pada waktu dhuha di hari Senin 12 Rabi’ul Awal 11 H (hari wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam) masuklah putri beliau Fathimah radhiyallahu anha ke dalam kamar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu dia menangis saat masuk kamar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia menangis karena biasanya setiap kali dia masuk menemui Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau berdiri dan menciumnya di antara kedua matanya, akan tetapi sekarang beliau tidak mampu berdiri untuknya. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ”Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu di telinganya, maka dia pun menangis. Kemudian beliau bersabda lagi untuk kedua kalinya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu sekali lagi, maka diapun tertawa.

Maka setelah kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, mereka bertanya kepada Fathimah : “Apa yg telah dibisikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadamu sehingga engkau menangis, dan apa pula yang beliau bisikkan hingga engkau tertawa?” Fathimah berkata: ”Pertama kalinya beliau berkata kepadaku: ”Wahai Fathimah, aku akan meninggal malam ini.” Maka akupun menangis. Maka saat beliau mendapati tangisanku beliau kembali berkata kepadaku:” Engkau wahai Fathimah, adalah keluargaku yg pertama kali akan bertemu denganku.” Maka akupun tertawa.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil Hasan dan Husain, beliau mencium keduanya dan berwasiat kebaikan kepada keduanya. Lalu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil semua istrinya, menasehati dan mengingatkan mereka. Beliau berwasiat kepada seluruh manusia yang hadir agar menjaga shalat. Beliau mengulang-ulang wasiat itu.

Lalu rasa sakitpun terasa semakin berat, maka beliau bersabda:” Keluarkanlah siapa saja dari rumahku.” Beliau bersabda:” Mendekatlah kepadaku wahai ‘Aisyah!” Beliaupun tidur di dada istri beliau ‘Aisyah radhiyallahu anha. ‘Aisyah berkata:” Beliau mengangkat tangan beliau seraya bersabda:” Bahkan Ar-Rafiqul A’la bahkan Ar-Rafiqul A’la.” Maka diketahuilah bahwa disela-sela ucapan beliau, beliau disuruh memilih diantara kehidupan dunia atau Ar-Rafiqul A’la.

Masuklah malaikat Jibril alaihis salam menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seraya berkata:” Malaikat maut ada di pintu, meminta izin untuk menemuimu, dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.” Maka beliau berkata kepadanya:” Izinkan untuknya wahai Jibril.” Masuklah malaikat Maut seraya berkata:” Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di Akhirat.” Maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la (Teman yang tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la, bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu: para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yg mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah rafiq (teman) yang sebaik-baiknya.”

‘Aisyah menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan dia mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a:

“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la. Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.” Berdirilah malaikat Maut disisi kepala Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana dia berdiri di sisi kepala salah seorang diantara kita- dan berkata:” Wahai roh yang bagus, roh Muhammad ibn Abdillah, keluarlah menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yang ridha dan tidak murka.”

Sayyidah ‘Aisyah berkata:”Maka jatuhlah tangan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” Dia berkata:”Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tidak ada yang kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yang disana ada para sahabat, dan kukatakan:” Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.” Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan radhiyallahu anhu seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan dan kekiri. Adapun Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata:” Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa alaihis salam pergi untuk menemui Rabb-Nya.” Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar radhiyallahu anhu, dia masuk kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata:”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”

Keluarlah Abu Bakar menemui manusia dan berkata:” Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.” Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”

Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah orang yang paling mulia, orang yg paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kiat tercinta Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya.

Waktu shalat telah tiba.

Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid.

“Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah….”

Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan.

“Asy…hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad…”

Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan.

Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputus. Salah satu kalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH.

“Asy…ha..du. .annna…”

Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh.

Tubuhnya mulai limbung.

Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong.

Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal.

Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu tahu.

Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan. Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjodohkannya. Saat itu Rasulullah meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, “Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya”.

Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak.

Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, “Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung.

Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat. Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, “Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat.”

Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena sudah diingatkan akan waktu shalat. Bilal teringat, saat shalat ‘Ied dan shalat Istisqa’ ia selalu berjalan di depan. Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab, satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih. Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.

Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan adzan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad shalallahu alaihi wasallam, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya. Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya.

Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk.

“Hanya sekali”, bujuk Umar. “Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?” Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh..

Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba.

Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

“Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah…”

“Asyhadu anna Muhammadarrasulullah…”



Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan.

“Asyhadu anna Muhammadarrasulullah…”

Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata.

“Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alash-shalah…”

Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid.

“Hayya `alal-falah, hayya `alal-falah…”

Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya?

“La ilaha illallah…”

Tiada tuhan selain ALLAH. Jika engkau menuhankan Muhammad, ketahuilah bahwa ia telah wafat. ALLAH Maha Hidup dan tak akan pernah mati.

http://kisahislami.com/2013/07/21/bilal-aku-tidak-akan-mengumandangkan-azan-lagi/

Sabtu, 28 September 2013

Belajar dari Kasus Isu Sara di Amerika tahun 1957

Kasus segregasi rasial di Arkansas, AS, dan ketegasan Presiden Dwight
Eisenhower pada thn 1957


Alkisah, pada bulan September 1957, gubernur negara Arkansas, Orval
Faubus, melarang sembilan murid hitam untuk masuk sekolah kembali di
Central High School di kota Little Rock, Arkansas. 
Ini adalah bagian dari warisan diskriminasi rasial yang masih bertahan kuat di kawasan selatan Amerika hingga saat itu. 
Kebijakan Gubernur Faubus ini menimbulkan protes luas di luar negara bagian Arkansas dan menjadi liputan media massa selama berhari-hari.

Setelah beberapa minggu, akhirnya Presiden Dwight Eisenhower turun
tangan. 
Dia memerintahkan Gubernur Faubus untuk mencabut
keputusannnya itu. 
Bukan hanya itu , Presiden Eisenhower mengirimkan
pasukan tentara dari Divisi Airborne 101 ke Little Rock pada tengah malam
tanggal 23 September.
Keesokan harinya, 24 September, sembilan murid
hitam yang menjadi korban rasisme itu dikawal oleh pasukan federal ke
sekolah.
Pasukan itu mengawal mereka sepanjang perjalanan dalam bus
hingga masuk ke kelas.
Karena siswa kulit hitam tsb sering menjadi sasaran demo, unjuk rasa, pelecehan SARA oleh mayoritas siswa kulit putih yg menentang mereka.

Pasukan itu begitu setia mengawal anak-anak kulit hitam tsb, walau pun pasukan itu berkulit putih, sehingga pasukan itu diejek oleh mayoritas siswa berkulit putih
Namun pasukan tsb lebih memilih untuk menegakkan keadilan , tanpa diskriminasi. 










Diskriminasi tak dibenarkan oleh konstitusi Amerika, dan untuk itu
Presiden Eisenhower dengan tegas sekali membatalkan kebijakan rasis
Gubernur Faubus, mengirim pasukan secara langsung untuk memastikan
bahwa hak-hal murid hitam tak diganggu oleh kaum kulit putih yang
rasis.



Yuk , mari kita hilangkan diskriminasi di Indonesia.

Semua manusia berhak mendapatkan kesempatan dalam mengejar cita2nya, mendapatkan perlakuan yg layak dan sama , tidak dibeda2kan antara sesama umat manusia.

Bagaimana bila dibalik ??

Kita yg menjadi objek ,
Kita yg dihambat ,
Kita yg dikenakan diskriminasi ,
tentu lah kita merasa tidak adil sbg sesama umat manusia,
karena kita semua adalah sama , sbg mahluk ciptaan Yang Kuasa


sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Hak-Hak_Sipil_Afrika-Amerika_(1955-1968)

http://en.wikipedia.org/wiki/Arkansas_National_Guard_and_the_integration_of_Central_High_School

http://en.wikipedia.org/wiki/Little_Rock_Nine

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/09/25/ketua-mui-warga-lenteng-agung-harus-diajarkan-soal-keberagaman

Jumat, 27 September 2013

Pengusaha yang Rumahnya Dilempari Granat Punya Hubungan Bisnis Dengan Prabowo

SPC, Jakarta Pola Winson, seorang pengusaha yang kediamannya menjadi target peledakan granat pada Jumat (27/9/2013) pagi, ternyata memiliki hubungan bisnis dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto. 

Hal tersebut diungkapkan salah seorang penghuni rumah yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di lokasi kejadian, Jumat (27/9/2013) siang. “Kenal cukup baik,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa Pola Winson memiliki usaha kertas di Kalimantan, sehingga memiliki hubungan bisnis dengan Prabowo. Pihak kepolisian melalui Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto, juga mengatakan bahwa Pola Winson adalah seorang Direktur di PT Kertas Nusantara.

Dari penelusuran Tribunnews.com, PT Kertas Nusantara atau biasa dikenal dengan sebutan Kiani Kertas, adalah perusahaan milik Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Hal ini dibenarkan Humas Partai Gerindra, Asrian Mirza. “Setahu saya memang demikian (milik Prabowo),” ujar Asrian Mirza saat ditanya Tribunnews.com mengenai perusahaan PT Kertas Nusantara. (SPC/25/Tribunews)

Sumber
http://suarapengusaha.com/2013/09/27/pengusaha-yang-rumahnya-dilempari-granat-punya-hubungan-bisis-dengan-prabowo/

di beberapa daerah di indo, ababil bisa dengan mudah membuat senpi dari pipa baja tapi jika tidak punya duit bisa dengan pipa yg ada di dalem petromax. untuk mesiu nya bisa di buat dengan cara menggoreng arang di campur blerang. mesiu yg dah jadi ente masukin dalem panci dan ente lempar ke dinding rumah. entar ceritain dimari ya. rumah nya ancur apa engga 
Rudenim Tanjung Pinang Bingung Biaya Makan Imigran Gelap Capai Rp 500 Juta per Bulan
Jumat, 27 September 2013 08:32 WIB


TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Pengurus Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pusat Tanjung Pinang, kelimpungan karena harus membiaya biaya makan dan minum imigran gelap terlampau besar.

Rudenim Pusat Tanjung Pinang, menjadi tempat penampungan sementara bagi orang asing yang dikenakan proses pengusiran atau deportasi atau tidakan Keimigrasian lainnya yang terbesar di Indonesia.

Kepala Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjung Pinang Surya Pranata mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan makan penghuninya per bulan, bisa menghabiskan dana Rp 400 juta sampai Rp 500 juta.

Padahal, kata dia, anggaran pemerintah yang diberikan untuk rumah singgah bagi warga negara asing tak berdokumen tersebut hanya Rp 5,1 miliar untuk 2013.

"Anggaran kami saat ini, boleh dibilang pas-pasan bahkan cenderung kurang. Apalagi saya dengar tahun 2014, anggaran kami akan dipangkas hingga 40 persen," kata Surya di kantornya, Jalan Jenderal Achmad Yani No 31 A Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Rabu (26/9/2013).

Surya mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan makan dan keamanan, tempatnya mendapatkan bantuan dana dari International Organization for Migration. "Itu untuk makan mereka dan tambahan uang penjaga keamanan," katanya

Rumah Detensi Imgrasi Tanjung Pinang, merupakan salah satu dari 13 rumah detensi yang dibuat oleh pemerintah. Rumah detensi yang mulai beroperasi pada April 2009 ini, dijadikan pusat penampungan untuk memfasilitasi penempatan orang asing yang mencari suaka ke negara ketiga. Jumlah imigran ilegal yang ditampung di rumah itu mencapai 348 orang per 25 September.

Sebanyak 305 orang di antaranya, merupakan imigran liar yang tengah mencari suaka ke negara ke tiga. Sedangkan sisanya, 43 orang, adalah imigran biasa yang melanggar peraturan seperti penyalahgunaan izin tinggal, dan illegal fishing.

http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/27/rudenim-batam-bingung-biaya-makan-imigran-gelap-capai-rp-500-juta-per-bulan 


Kamis, 26/09/2013 10:53 WIB
'Surat Cinta' Tahanan Imigrasi di Tanjung Pinang
Mulya Nurbilkis - detikNews


Kepri - Surat cinta identik dengan sayang-sayangan. Namun surat cinta yang satu ini merupakan keluhan dari penghuni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Surat cinta berisi permohonan atas kebutuhan tahanan imigrasi.

"Ini surat cinta baru saya terima tadi pagi dari salah satu deteni (tahanan)," kata kepala Rudenim Pusat Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (Kepri), Surya Pranata, kepada wartawan yang berkunjung ke Rudenim Pusat Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Rabu (26/9/2013).

Surat cinta ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka mengeluhkan antara lain televisi yang rusak dan meminta untuk segera diperbaiki.

"Isi suratnya, penghuni blok A3 melapor kalau televisi di blok mereka rusak dan minta diperbaiki," lanjutnya.

Dengan bahasa Inggris ala kadarnya, para deteni dari Myanmar mengeluhkan televisi blok yang sudah rusak sejak bulan lalu. Akhirnya mereka mengaku tak bisa mendapatkan hiburan seperti penghuni blok lainnya. Karena itu, mereka minta disediakan televisi baru. Untuk pengadaannya mereka meminta pihak imigrasi berkonsultasi dengan IOM (International Organization for Migration).

"So we are blok A3, TV broken 1 mont ago. Now Mr Chief Immigration and Chief IOM, please provide TV, Sir. So TV brooken, cannot see now, Sir. So please talk with IOM. Your kind please help us, Sir," demikian isi surat cinta itu.

Surya mengaku memiliki lebih banyak surat cinta lagi dari deteni di ruangannya. Keluhan deteni mulai dari fasilitas yang bermasalah di ruangan mereka hingga keberadaan mereka yang terlalu lama di Rudenim.

"Kadang mereka mengeluhkan status refugee (pengungsi) mereka yang terlalu lama," lanjut Surya.

Rudenim Pusat Tanjung Pinang menampung 68 imigran Myanmar dari total 348 deteni. Dari 348 deteni yang ada, 305 di antaranya adalah para pencari suaka ilegal tanpa surat. Selebihnya yakni 43 orang merupakan imigran yang memiliki masalah hukum dan melanggar aturan keimigrasian. Misalnya, masa tinggalnya melebihi visa, illegal fisher, dan beberapa masalah imigrasi lainnya.

Pengelolaan di Rudenim Tanjung Pinang dibantu oleh IOM dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). IOM dan UNHCR menjadi perpanjangan tangan negara-negara lainnya dalam pengurusan para imigran bermasalah di Indonesia. UNHCR juga yang memberikan rekomendasi pengubahan status para imigran ilegal menjadi pengungsi dan dapat dipindahkan dari Rumah Detensi menuju 'Community House' di beberapa kota di Indonesia.

news.detik.com/read/2013/09/26/105306/2369848/10/surat-cinta-tahanan-imigrasi-di-tanjung-pinang


Biaya makan per bulan Rp 500 juta dgn asumsi per bulan 30 hari, jumlah imigran gelap 348 orang, dan dalam 1 hari makan 3 kali. 

Jatah makan 1 orang/bulan = Rp. 500.000.000 : 348 orang = Rp. 1.436.782
Jatah makan 1 orang/hari = Rp. 1.436.782 : 30 hari = Rp. 47.893
Jatah makan 1 orang/sekali makan = Rp. 47.893 : 3 kali = Rp. 15.964

Imigran gelapnya diberi makan apa tuh seharga 15.000-16.000?